Kamis, 27 Januari 2011

Epidemiologi Penyakit Tak Menular - Kanker Payudara

KANKER PAYUDARA


Kanker

Definisi kanker adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal, menyerang jaringan biologis di dekatnya, dan bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, yang disebut metastasis. Definisi lain dari kanker yaitu pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal (tumbuh sangat cepat & tidak terkontrol), menginfiltrasi, menekan jaringan tubuh sehingga akan mempengaruhi fungsi organ tubuh. Jaringan kanker memiliki ciri morfologis yang sangat khas saat diamati dengan mikroskop. Diantaranya berupa banyaknya jumlah sel yang mengalami mitosis, variasi jumlah dan ukuran nukleus, variasi ukuran dan bentuk sel, tidak terdapat fitur selular yang khas, tidak terjadi koordinasi selular yang biasa nampak pada jaringan normal dan tidak terdapat batas jaringan yang jelas (http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker).
Terdapat empat faktor utama penyebab kanker seperti lingkungan, makanan, biologis dan psikologis. Faktor lingkungan antara lain berasal dari (1) bahan kimia (bahan kimia industri asap yang mengandung senyawa carbon, serta zat dari asap rokok), (2) penyinaran yang berlebihan (sinar ultraviolet, sinar radioaktif, atau radiasi), (3) merokok (setiap kali merokok maka akan menghirup sedikitnya 60 zat karsinogen pemicu kanker), (4) polusi udara. Faktor makanan juga menjadi penyebab kanker, makanan yang menjadi penyebab kanker yaitu makanan yang terdapat zat-zat kima tertentu, seperti daging yang mengandung hormon sex buatan, bahan pemanis buatan seperti biang gula dan sakarin, nitrosamines pada bahan-bahan pengawet buatan, zat pewarna yang ada dalam makanan, minuman, kosmetik, maupun obat obatan, zat radioaktif, kebanyakan makan garam, serta makanan yang sudah menjadi tengik. Untuk faktor biologi yang dapat menyebabkan kanker yaitu (1) virus (contoh: virus HIV yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh), (2) hormon (pemberian hormon yang berlebihan), (3) dan keturunan. Faktor psikologis juga dapat menyebabkan penyakit kanker, faktor psikologis tersebut yaitu (1) Kepribadian (tipe tertutup  mudah stress, menderita gangguan emosi, berisiko tinggi terkena penyakit kanker dan jantung), (2) stress (akan melemahkan respon imunitas  kekebalan tubuh menurun  mempermudah masuknya sel-sel kanker menyerang tubuh).
Kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang. Dari data WHO, diketahui setiap tahun jumlah penderita kanker di dunia bertambah menjadi 6,25 juta orang. Di negara maju, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit-penyakit kardiovaskuler. Sepuluh tahun mendatang, diperkirakan 9 juta orang diseluruh dunia akan meninggal karena kanker setiap tahunnya (Familiy’s Doctor, 2006). Salah satu kanker yang sering terjadi adalah kanker payudara.

Kanker payudara

Definisi kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh Word Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode nomor 174. Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Namun, diduga penyebab kanker payudara termasuk multifaktorial, yaitu banyak faktor yang terkait satu dengan yang lain. Beberapa faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh besar dalam terjadinya kanker payudara adalah riwayat keluarga, hormonal, dan faktor lain yang bersifat eksogen (Soetrisno, 1988). Moningkey (2000), menjelaskan mengenai faktor-faktor risiko yang berperan dalam terjadinya penyakit kanker payudara, yaitu sebagai berikut:
• Faktor reproduksi
Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Pada wanita, karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara.
• Penggunaan hormon
Hormon eksogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker ini sebelum menopause.
• Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.
• Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause.
• Konsumsi lemak
Willet dkk., melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun. Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara.
• Radiasi
Terpapar dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya keterpaparan.
• Riwayat keluarga dan faktor genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko penyakit kanker payudara ini pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen suseptibilitas kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun.

Aspek Epidemiologis Kanker Payudara

Dalam Tjahjadi (1996), kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relatif tinggi, yaitu 20% dari seluruh keganasan. Menurut Moningkley (2000), berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap tahunnya, sebanyak 350.000 di antaranya ditemukan di negara maju, sedangkan 250.000 di negara yang sedang berkembang. Di Negara Amerika Serikat, penyakit ini paling sering terjadi pada wanita dewasa. Diperkirakan bahwa di AS, sebanyak 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara yang mewakili 32% dari semua kanker yang menyerang wanita. Bahkan, disebutkan dari 150.000 penderita kanker payudara yang berobat ke rumah sakit, 44.000 orang di antaranya meninggal setiap tahunnya (Oemiati, 1999). American Cancer Society dalam Moningkley (2000) memperkirakan bahwa kanker payudara di Amerika akan mencapai 2 juta dan 460.000 di antaranya meninggal antara 1990-2000.
Menurut Tjindarbumi (2000), di Indonesia sendiri, penyakit kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua sesudah kanker leher rahim. Sejak 1988 sampai 1992, kanker leher rahim dan kanker payudara tetap menduduki tempat teratas. Dalam Moningkley (2000) dijelaskan bahwa, selain jumlah kasus yang banyak, lebih dari 70% penderita kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut. Data dari Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa Case Fatality Rate (CFR) akibat kanker payudara menurut golongan penyebab sakit menunjukkan peningkatan dari tahun 1992-1993, yaitu dari 3,9 menjadi 7,8 (Ambarsari, 1998 dalam www.tempo.co.id).

Aspek Klinis Kanker Payudara

Pada penyakit kanker payudara, gejala klinis yang ditemukan dapat berupa benjolan pada payudara, erosi atau eksema puting susu, atau berupa pendarahan pada puting susu. Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu. Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk, mengkerut, atau ulkus pada payudara. Ulkus itu makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah. Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul ulkus, atau sudah ada metastase ke tulang-tulang. Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, edema pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh (Handoyo, 1990 dalam www.tempo.co.id).
Pada kejadian kanker payudara lanjut gejala klinis sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria sebagai berikut: terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara), adanya nodul satelit pada kulit payudara, kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa, terdapat model parasternal, terdapat nodul supraklavikula, adanya edema lengan, adanya metastase jauh, serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain (Masdalina dalam http://www.tempo.co.id).
Gejala-gejala penyakit kanker payudara yang dialami seseorang yang perlu dikhawatirkan, yaitu sebagai berikut:
• Terdapat benjolan yang keras di payudara
• Benjolan yang keras itu tidak bergerak dan biasanya pada awal-awalnya tidak terasa sakit
• Apabila benjolan itu kanker, biasanya pada awal-awal hanya terjadi pada salah satu payudara saja
• Terdapat benjolan-benjolan kecil di payudara dan sekitarnya
• Bentuk puting berubah (bisa masuk kedalam, atau terasa sakit terus-menerus), putting mengeluarkan cairan tidak normal/ darah
• Ada perubahan pada kulit payudara diantaranya berkerut dan iritasi, seperti kulit jeruk
• Ada luka dipayudara yang sulit sembuh
• Payudara terasa panas, memerah, dan bengkak
• Terasa sakit / nyeri (hal ini bisa disebabkan bukan sakit karena kanker, namun sebaiknya harus tetap diwaspadai)
• Terasa sangat gatal didaerah sekitar puting
Screening mammogram dilakukan untuk melihat adanya penyakit kanker payudara/ adanya suatu keadaan abnormal dari penyakit kanker payudara. Untuk diagnose penyakit kanker payudara, dokter menggunakan berbagai macam cara untuk mendiagnosa penyakit tersebut, diagnose dilakukan untuk menentukan apakah sudah ada metastasis ke organ lain. Tes juga dilakukan pada pasien, hal ini bertujuan untuk menentukan pengobatan yang paling efektif untuk pasien. Kebanyakan pada tipe kanker, biopsi (mengambil sedikit jaringan untuk diteliti dibawah mikroskop yang dilakukan oleh ahli patologi) adalah jalan satu-satunya untuk menentukan secara pasti diagnosis kanker. Apabila biopsi tidak mungkin dilakukan, dokter akan mengusulkan tes lain untuk membantu diagnosa. Test Imaging bisa digunakan untuk menemukan apakah telah terjadi metastasis.
Pada saat akan memutuskan test diagnostic yang harus dijalani pasien, dokter akan mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu: usia dan kondisi medis pasien, tipe kanker, beratnya gejala, serta hasil tes sebelumnya. Tes diagnosa yang dilakukan dokter pada penyakit kanker payudara biasanya dimulai apabila pasien atau dokter menemukan suatu pengerasan yang tidak normal (suatu titik kecil dari kalsium, biasanya dilihat pada saat X-ray), pada screening mammogram. Atau bisa juga suatu yang tidak normal di payudara wanita ditemukan pada pemeriksaan klinis atau pemeriksaan sendiri.

Strategi Pencegahan

Strategi pencegahan untuk penyakit kanker payudara, dapat dipisahkan menjadi tiga kelompok, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular, dalam hal ini penyakit kanker payudara, adalah promosi kesehatan dan deteksi dini. Pencegahan-pencegahan yang dapat dilakukan pada penyakit kanker payudara ini antara lain sebagai berikut:
Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat. Pencagahan primer ini juga bisa berupa pemeriksaan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) yang dilakukan secara rutin sehingga bisa memperkecil faktor resiko terkena penyakit kanker payudara. Pemeriksaan SADARI ini dapat dilakukan oleh seseorang pada saat sedang mandi. Hal ini akan mempermudah untuk mengetahui apakah terdapat benjolan yang merupakan gejala dari penyakit kanker payudara.
Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini yang dapat dilakukan, salah satunya yaitu screening melalui mammografi yang diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Oleh karena itu, sscreeening dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain: (1) Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk assessement survey, (2) pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi setiap tahun, (3) wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia 50 tahun. Foster dan Constanta (dalam www.tempo.co.id) menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%.
Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier untuk penyakit kanker payudara, biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita penyakit tersebut. Penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk dilakukan agar penderita dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta akan mencegah komplikasi penyakit dan dapat meneruskan pengobatan untuk memperpanjang masa hidupnya. Tindakan pengobatan yang dilakukan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan aiternatif.


SUMBER REFERENSI

Moningkey, Shirley Ivonne, 2000. Epidemiologi Kanker Payudara. Medika; Januari 2000. Jakarta.
Tjahjadi, Gunawan. 1996. Jenis dan Adpek Patologi Kanker Payudara. FK-UI, Jakarta.
Tjindarbumi. 2000. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penaggulangannya, Dalam: Deteksi Dini Kanker. FK-UI. Jakarta.
Wahyuni, Arlinda Sari. Analisis Ketahanan Hidup 5 Tahun Pada Penderita Kanker Payudara di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Tesis. FKM-UI, Depok.
“Aspek Klinis dan Epidemiologis Penyakit Kanker Payudara”, http://www.tempo.co.id/medika/arsip/082002/pus-3.htm. (diakses pada Minggu, 26 Desember 2010 pukul 11.13).
“Dukungan Sosial Pada Pasien Kanker, Perlukah?; Kanker”. http://usupress.usu.ac.id. (diakses pada Sabtu, 25 Desember 2010 pukul 08.24).
“Kanker”. http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker. (diakses pada Jumat, 24 Desember 2010 pukul 11.25).
“Kanker”. http://www.detak.org/. (diakses pada Jumat, 24 Desember 2010 pukul 10.06).
“Kanker Payudara: gejala, penyebab, dan diagnose”. http://kankerpayudara.wordpress.com/2007/12/25/kanker-payudara-gejala-penyebab-dan-diagnosa/. (diakses pada Sabtu, 25 Desember 2010 pukul 09.55).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar